Belakangan ini banyak hal yang terjadi dalam hidup saya, di samping keluhan-keluhan saya yang tanpa arti tak lupa juga saya ucapkan rasa syukur yang mendalam atas hadirnya seseorang yang mengisi hari-hari saya belakangan ini, semoga saja Dia adalah jawaban atas segala do’a yang saya panjatkan selama ini.
Tapi dipostingan kali ini, saya tidak ingin bercerita tentang sosok special di hati saya, biarlah saja dia menjadi seseorang yang tetap menjadi sosok rahasia sampai nanti tiba saatnya saya perkenalkan dia kepada semua orang bahwa inilah orang yang saya cintai.
Disini saya ingin berbagi tentang apa yang terjadi pada diri saya belakangan ini, saya baru sadar rupanya selama ini saya sudah mengabaikan terlalu banyak hal. Keluarga, pekerjaan dan orang-orang terdekat saya. Banyak orang mengeluhkan dan merasa tidak Nyaman dengan apa yang saya lakukan, mereka bilang saya egois, dan tentunya komentar seperti ini membuat saya terhenyak serasa jatuh dari ketinggian berates-ratus meter.
Kemudian saya mengevaluasi apakah benar demikian?? Umumnya cacatnya nyaris tidak ada kalau orang mengevaluasi dirinya sendiri, termasuk saya. Melihat kedalam diri sendiri buat saya akan jauh lebih susah untuk tau apa kesalahan saya. Yang dibutuhkan sebetulnya adalah kejujuran dan keikhlasan untuk mengakui kekurangan.
Sama seperti seminggu yang lalu ketika saya untuk kesekian kalinya kembali dihantui trauma-trauma kegagalan di masa lalu, ketakutan-ketakutan yang tidak jelas, kesedihan yang seharusnya tidak ada dan semua perasaan aneh yang menjajah saya, posesif, sensitive dan defensif sehingga memaksa saya mengikuti anjuran pacar saya untuk introspeksi diri sebelum saya menjadi seseorang dengan jiwa psikopat.
3 hari saja sudah membuat saya sangat tersiksa mencoba keluar dari permasalahan yang membelit saya, perlahan-lahan saya belajar menerima diri sendiri, percaya diri sendiri dan belajar memaafkan diri sendiri, meski melalui proses yang sulit, dorongan semangat dari sang pacar yang selalu mengatakan “kamu pasti bisa” membuat saya sedikit demi sedikit belajar membuka kembali mata, hati dan pikiran saya bahwa halnya segala sesuatu yang ada di dunia ini harus dijalani dengan ikhlas, apapun yang terjadi hidup manusia semuanya sudah ada garis nya masing-masing, iya… saya diajarkan untuk tidak egois, dan nyatanya saya mulai menyadari sekuat apapun saya genggam, sekuat apapun saya pertahankan bila Tuhan tidak menghendaki maka semuanya akan terlepas. Seperti halnya juga yang dikatakan pacar saya cintailah sesuatu dengan sepenuh hati jangan sepenuh jiwa, karena nanti sewaktu-waktu kita ditinggalkan kita hanya sakit hati tidak sakit jiwa.
Saya memasuki fase galau saat itu, dalam masa introspeksi diri, saya dan pacar sepakat untuk tidak saling bertemu, perlahan-lahan saya belajar mengkoreksi diri sendiri, apa yang menyebabkan saya menjadi egois, posesif sensitive dan yang terakhir defensif. Sambil menunggu kabar dari sang pacar nurani saya bicara, mungkinkah semua ini muncul karena kepekaan saya yang menjadi tumpul. Sama seperti pisau kalau sudah tumpul tak ada gunanya dan memerlukan tindakan pengasahan supaya ia berguna lagi. Saya mulai menyadari hidup saya kalau bisa diusahakan terus diasah supaya bermakna.
Tentu sangat tidak enak dan sangat tidak nyaman ketikan melalui fase-fase galau itu, seperti tersetrum listrik ketika mendengar semua komentar buruk tentang diri saya, apalagi itu datangnya dari sang pacar. Rasanya bukan Cuma kesetrum, tetapi lumpuh. Dan sejujurnya saat itu saya tersakiti dan nyaris lumpuh.
Tersakiti yang parah itu bukan karena yang memberi komentar itu jahat, tetapi seperti yang dikatakan Samuel Mulia kondisi tumpul saya sudah seperti gangrene di kaki penderita penyakit gula, sudah terlalu parah dan harus diamputasi.Setelah proses introspeksi diri dan selama proses kesembuhan yang sedang berjalan, saya seperti sedang melihat perbedaan ternyata untuk bangkit dari keterpurukan dan untuk keluar dari ketakutan-ketakutan saya harus merasakan sesuatu yang tajam, kritikan yang pedas dan menyakitkan. Yahhh…. Tajam dan pedas itu penting, supaya saya tidak gampang mengatakan saya tidak berani menghadapi kenyataan kalau saya memang keliru, tajam dan pedas itu memberi kepekaan karena dengan itu saya jadi tau betapa tumpulnya saya sampai tidak tau bahwa saya sedang menjadi pencuri.

keep spirit ya mbakYU >_<
Menyadari bahwa ada kekurangan dalam diri sudah merupakan langkah besar untuk menuju perbaikan diri. Tetap semangat, Jeng
Kita memang butuh reminder ya Tar, agar ga kebablasan. Reminder itu bisa berupa kritikan dari orang terkasih. Meskipun seringnya kita tidak suka dikritik apalagi merasa disalahkan, kita menolaknya mentah-mentah.
Saya juga pernah berada dalam situasi seperti itu. Tulisan kamu mengingatkan kembali agar saya selalu bisa bercermin.
stuju.. reminder untk stiap emosi juga..
iya… dulu fajar juga ga suka diinget2in, tp lama-kelamaan fajar tao klo hidup ini butuh orang lain buat instropeksi…
Pedas dan tajam?
Kritik pedas dan tajam.
cabe itu pedas jenderal, hehe *halah
hey hey … ayo semangat tary … hehe, butuh waktu memang untuk memahami seseorang itu, dan orang itupun pasti butuh waktu untuk mengerti kita… dan pada fase pembelajaran itu pasti deh banyak berantemnya hehe .. *pengalaman pribadi* … tapi klo akhirnya kita berhasil melewatinya dgn baik, insya allah kita akan bahagia … ^^
Saatnya mengasah gergaji-gergaji kepedulian yang kini mulai tumpul, others oriented is needed sometimes, aside the self oriented.
perlu ketegasan..dan kadang memang sedikit pedas…
Tulisan yang ermosional sepertinya.. :p
tary! aku cari2 blog mu yang lama, ternyata deleted. akhirnya ketemu juga blogmu ini… =)
I’m good enough, but can’t stop smoking =(
btw, kapan kau berhenti mengeluh?haha
Kalem ya, Ry…
Jangan sampai jadi ganggrene deh… susah banget ngerawat lukanya, sembuhnya juga susah…
Get well soon ya…
seperti membelah cabai dgn pisau ya..hha
semangat !!!
semoga bisa menjadi pribadi yg lebih baik…
dan kadang orang mengkritik kita karena mereka sayang pada kita, dan gak pengen kita menjadi pribadi yg buruk…
jadi sekali lagi, semangat !!!!
pedas dan tajam…?
kripik singkong pedes yg di taroh di ujung pisau belati…
# kabuuurrrrrrrrr…… #
Wahh.. kok sama yaw.. cuma sy lebih parah, karena skrg ga ad cwe special yg menemani saya.. jadi inget mantan, yang sering sy sakiti karena sifat egois sy.. hmm,, memang penting sekali tajam dan pedas itu, cuma kadang2 ga mempan sama saya yg cuek bebek ini. jelek juga jadi orang yg ga peduli sama rasa takut a.k.a total cuek.. yah.. kl kata bondanfade2black, “tetap semangat” aja dah.. hehe
)
Ri, Apa kabar nih?
Selamat menunaikan ibadah di bula ramadhan ya…
Salam kenal.